Cerita ini terjadi ketika aku masih Kuliah Semester VII di Bali. Pada waktu itu aku kos di dekat kampus. Namaku Mela, tinggi 167 cm, dan aku mempunyai wajah yang boleh dibilang lumayan cantik, rambutuku lurus panjang, dengan body yang langsing dan semampai yang bisa bikin cowok terangsang ketika melihatku. Cerita ini merupakan pengalaman pertamaku melakukan hubungan seksual. Cowok yang pertama kali merasakan kehangatan tubuhku adalah teman kos ku sendiri. Namanya Dito, tinggi kurang lebih 170 cm, dan mempunyai wajah yang ganteng, dan didukung dengan bodi yang tegap gagah yang bisa bikin cewek terpana ketika melihatnya.
Dito adalah cowok yang baik dan ramah pada setiap orang. Aku menganggap Dito seperti saudara sendiri. Karena aku memang anak tunggal, jadi aku ingin mempunyai seorang saudara. Dan menurut ku, Dito bisa jadi adik yang baik buat aku. Usia ku selisih 5 tahun dengan usia Dito, aku kuliah semester VII dan Dito masih SMA kelas II.
Pada kos-kosan masih sepi karena sedang liburan semester. Di kos-kosan teman-teman belum pada pulang kampung. Di kos-kosan cuma ada aku dan Dito yang masih tinggal. Saat itu kegiatanku sedang tiduran dikamar. Saat tiduran aku ada niat ingin mengambil buku ke temanku, tetapi aku bingung siapa yang mengantarku ke sana karena hari sudah malam. Kemudian aku melihat Dito hendak keluar kos, sepertinya dia ingin membeli makanan. Aku sempat ingin menghampiri dia untuk meminta dia mengantarku mengambil buku ke tempat temanku. Karena dia terlanjur pergi, kuputuskan untuk menunggu Dito kembali.
Setelah Dito kembali, pada saat Dito akan membuka pintu kamar, aku segera menyapanya.
"Baru datang ya Dito?" Sapaku.
"Ehh, Kak Mela. Iya Kak, aku baru beli makan nih", jawab Dito dengan senyum manisnya.
"Kamu bisa nganterin Kak Mela sebentar nggak?"
"Nganterin kemana Kak?", tanya Dito penasaran.
"Kak Mela mau pinjam buku dirumah teman Kakak", jawabku manja.
"gimana ya?", Jawab Dito dengan nada ragu.
"ya kalau kamu nggak bisa... Kak Mela pergi sendiri saja", jawabku.
"Jangan...!!!! Ini sudah malam Kak. Bukannya tidak mau mengantar Kak, tapi aku sedang lelah"
Mendengar jawabnya, aku tersenyum dan berkata
"Oh, kamu lelah? Tenang saja Dito, nanti Kak Mela pijatin dehh!!!"
"Boleh deh, kak. Kalau gitu aku ambil kunci motor sebentar ya!", jawab Dito sambil berjalan menuju ke kamar untuk mengambil kunci motornya.
"Thanks ya Dito...", jawabku dengan gembira.
"Baru datang ya Dito?" Sapaku.
"Ehh, Kak Mela. Iya Kak, aku baru beli makan nih", jawab Dito dengan senyum manisnya.
"Kamu bisa nganterin Kak Mela sebentar nggak?"
"Nganterin kemana Kak?", tanya Dito penasaran.
"Kak Mela mau pinjam buku dirumah teman Kakak", jawabku manja.
"gimana ya?", Jawab Dito dengan nada ragu.
"ya kalau kamu nggak bisa... Kak Mela pergi sendiri saja", jawabku.
"Jangan...!!!! Ini sudah malam Kak. Bukannya tidak mau mengantar Kak, tapi aku sedang lelah"
Mendengar jawabnya, aku tersenyum dan berkata
"Oh, kamu lelah? Tenang saja Dito, nanti Kak Mela pijatin dehh!!!"
"Boleh deh, kak. Kalau gitu aku ambil kunci motor sebentar ya!", jawab Dito sambil berjalan menuju ke kamar untuk mengambil kunci motornya.
"Thanks ya Dito...", jawabku dengan gembira.
Setelah kita keluar dari kamar, Dito segara menghidupkan motor dan mengantarku. Ternyata tidak lama kemudian sudah sampai didepan rumah temanku.
"kamu mau ikut masuk Dito?"
"nggak Kak, aku tunggu disini saja", jawab Dito sambil memarkir motornya.
"kamu mau ikut masuk Dito?"
"nggak Kak, aku tunggu disini saja", jawab Dito sambil memarkir motornya.
Kemudian aku masuk rumah temanku dan tidak lama kemudian aku keluar dari rumah temanku, dan langsung mengajak Dito pulang. Setelah sampai di kos-kosan, Dito langsung masuk ke kamar, sepertinya dia benar-benar kelelahan. Aku kemudian masuk ke kamar untuk ganti baju. Karena aku sudah janji ingin memijat Dito, aku bergegas menuju kamarnya. Kemudian aku mengetok pintu kamar Dito.
"Dito... Sudah tidur apa belum?", tanyaku di depan pintu.
"masuk saja Kak Mela. Pintunya tidak dikunci kok", jawab Dito dari dalam kamar.
Begitu aku masuk, Dito tamapak kaget dan terpana melihatku memakai tank top hitam dan rok mini warna pastel masuk kedalam kamarnya.
"ada apa, Kak Mela?", tanya Dito dengan nada tegang.
"kamu kan tadi bilang, kalau kamu lelah. Bagaimana kalau Kak Mela pijatin kamu"
"Boleh... Kak Mela", jawab Dito dengan gagapnya sambil membalikkan badannya yang tadi terlentang menjadi tengkurap.
"Lapaskan baju kamu, biar lebih enak Kak Mela mijatnya".
Dito langsung bangun dan melepas bajunya dan kembali tengkurap. Setelah sekian lama memijat aku bertanya ke Dito.
"enak nggak pijatan Kak Mela?", bisiku di telinga Dito.
"Enak, kak....", jawab Dito.
"ehh...jangan mau enak sendiri dong!! Gantian dong!", jawabku sambil menghentikan pijatanku ke badannya Dito.
"Ok, kak. Aku pijatin sini...", jawab Dito dan langsung bangun.
"masuk saja Kak Mela. Pintunya tidak dikunci kok", jawab Dito dari dalam kamar.
Begitu aku masuk, Dito tamapak kaget dan terpana melihatku memakai tank top hitam dan rok mini warna pastel masuk kedalam kamarnya.
"ada apa, Kak Mela?", tanya Dito dengan nada tegang.
"kamu kan tadi bilang, kalau kamu lelah. Bagaimana kalau Kak Mela pijatin kamu"
"Boleh... Kak Mela", jawab Dito dengan gagapnya sambil membalikkan badannya yang tadi terlentang menjadi tengkurap.
"Lapaskan baju kamu, biar lebih enak Kak Mela mijatnya".
Dito langsung bangun dan melepas bajunya dan kembali tengkurap. Setelah sekian lama memijat aku bertanya ke Dito.
"enak nggak pijatan Kak Mela?", bisiku di telinga Dito.
"Enak, kak....", jawab Dito.
"ehh...jangan mau enak sendiri dong!! Gantian dong!", jawabku sambil menghentikan pijatanku ke badannya Dito.
"Ok, kak. Aku pijatin sini...", jawab Dito dan langsung bangun.
Aku langsung tengkurap disebelah Dito. Kemudian Dito mengambil baby oil dan menuangkannya sedikit di telapak tangannya. Dito mulai memijat dari kakiku. Semakin lama, tangannya memijat semakin naik hingga ke pahaku. Selama itu pula suasana dikamar Dito jadi hening, karena diantara kita nggak ada yang bicara. Setelah lama Dito memijat daerah pahaku, aku mulai terangsang. Aku mulai mendesah pelan. Sepertinya Dito mendengar desahanku, karena pada saat itu sausana kamar Dito begitu hening.
"ehhmmmm... Aahhhh...", aku mendesah karena usapan tangan Dito di pahaku.
Mendengarkan aku mendesah, sepertinya membuat Dito menjadi tegang. Dito semakin bersemangat memijatku. Lama-lama pijatan Dito berubah menjadi rabaan lembut pada pahaku. Aku yang tadi tidak bergerak, sekarang mulai menggeliat kayak cacing kepanasan karena terangsang. Kemudian, entah kenapa aku reflek membuka pahaku seolah memberi ruang untuk kedua tangan Dito meraba bagian dalam pahaku. Posisi Dito sekarang sudah berubah. Sekarang Dito duduk diantara kedua kakiku yang terkekang. Karena aku memakai rok mini yang begitu pendek, mau tidak mau, suka tidak suka, Dito tamapak tersenyum karena dengan jelas Dito bisa melihat celana dalam berendaku yang berwarna hitam. Tampak jelas membuat penis Dito mengembang dan semakin ingin melompat dan menusuknya di vaginaku. Semakin Dito menaikan kedua tangannya ke pahaku, aku semakin menggelinjang kegelian. Kemudian aku berkata lirih
"Dito...kalau rok ku mengganggu, lepasin aja..."
Tanpa berpikir dua kali Dito langsung melepaskan rok ku, aku membantu dengan mengangkat tubuhku. Kemudian Dito menarik rok ku kebawah sampai terlepas. Dito terdiam sesaat waktu melihat pantatku yang begitu bulat mengembang. Nafas Dito tampak memburu tak menentu menyaksikan pemandangan yg begitu indah.
"kenapa diam, Dito...?? Lanjutkan memijatnya dong...!!!" kataku manja.
Lamunan Dito langsung buyar. Tanpa menjawab pertanyaanku, Dito kemudian meneruskan tugasnya memijatku. Semakin lama diraba-raba Dito, perasaan ku jadi tambah tak menentu dan gairahku menjadi meningkat. Semakin lama Dito memandangi patat bulat milikku, Dito seperti gemas meraba pantatku. Tanpa aku sadari tangan Dito meremas dengan keras pantatku.
"aawwhhh....pelan-pelan dong! Kan sakit..."Tanpa menghiraukan kata-kataku, Dito terus menerus meremas patatku. Celana dalamku telah basah oleh cairan yang keluar dari vaginaku, yang menandakan kalau aku sudah terbuai dalam rangsangan. Kemudian tangan kanan Dito turun dan meraba vaginaku yang masih tertutup celana dalam.
"Ohhh....sshttt.....aahhhhhh", aku mendesah pelan.
Tubuhku menggelinjang semakin tidak terkontrol dan semakin banyak cairan yang keluar dari vaginaku. Kemudian aku membalikan tubuhku, sekarang aku terlentang kemudian, Dito melepas celana dalam hitamku yang telah basah. Setelah celana dalamku dilepas, Dito menurunkan kepala nya hingga berada diantara selangkanganku. Dito mulai menjilati paha mulus milikku dan menyupangi beberapa kali hingga meninggalkan bekas merah pada pahaku. Semakin lama jilatan Dito naik ke pangkal paha dan menjilati daerah pangkal pahaku. Dito meneruskan jilatannya pada memekku. Desahan dan eranganku samakin tidak bisa di tahan. Wajahku yang cantik telah basah oleh peluh-peluh yang keluar karena aku sedang menahan siksaan kenikmatan yang luar biasa. Kedua tangan Dito mulai mengangkat tank top dan BH Hitamku. Kemudian, Dito meremas-remas payudara dan ibu jarinya menggesek-gesek serta menekan putingku. Kadang Dito mencubit dan memilinnya, membuat aku semakin tak kuasa menahan kenikmatan. Aku semakin meracau-racau tak jelas.
"Ahhh....uuuhhh...ohhh...."
"aduhh....akh...ggeeell....lliii....!!!!", aku menggelinjang karena semakin terangsang.
"aduhh....akh...ggeeell....lliii....!!!!", aku menggelinjang karena semakin terangsang.
Mulut Dito semakin kuat menghisap vaginaku. Lidahnya semakin liar menari-nari dan menyentil-nyentil klitorisku. Kadang Dito menggigit lembut klitorisku yang membuat aku semakin tak kuasa menahan nikmat dan cairan vaginaku semakin banjir. Kemudian Dito menjulurkan lidahnya semakin panjang dan memasukannya kedalam liang vaginaku.
"Uhh...achh....amm....puunnn.....Dito....!!! Hisss....ssaaap terus Dito...!!!", aku tak henti-hentinya mengerang.
Dito memasukan jari tengahnya ke dalam liang vaginaku hingga Dito menemukan G-spotku. Dito menekan dan menggesek terus daerah tersebut sambil mulutnya menghisap klitorisku, semakin lama semakin keras. Hingga Dito dapat membobol pertahananku.
"Ahhh....akkhh...teee....rrruss diisss...tuuu".Dito semakin keras menghisap klitorisku.
"Oohhhh.....sssse....dikkk....kittt lagggii akkkuuu....achhh....ouwhhh......ahhhhhhhhhh........!!!!"
Aku tidak dapat lagi meneruskan kata-kataku serta mengeluarkan erangan panjang yang tertahan karena dilanda orgasme yang begitu hebat. Dan tubuhku mengejang hebat, pahaku menjepit kepala Dito, tanganku menekan kepala Dito hingga semakin masuk dalam di selangkanganku. Pinggulku terangkat dan menyentak-nyentak tanpa bisa aku kendalikan. Ketika itu vaginaku juga mengeluarkan cairan putih lengket.
"ccrrrettt... ccrrrettt... ccrrrettt...", Cairan itu meleleh dan langsung Dito hisap dan dia jilat sampai habis. Kemudian aku terkulai lemas bagai tidak punya tulang.
Dito kemudian bangun dan melepas semua pakaiannya hingga Dito telanjang bulat. Kemudian Dito melepas tank top dan BH ku yang telah tersingkap ke atas. Kami berdua telah bugil tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami. Dito segera menggagahi tubuh bugilku yang begitu menggairahkan untuk disetubuhi. Dito mencium bibirku yang merekah indah. Dito melumat bibirku. Kita saling memainkan lidah, saling membelit dan menghisap. Dito menurunkan ciumannya ke leher jenjangku. Menelusuri senti demi senti leherku dan turun lagi hingga sampai pada payudaraku. Dito menciumi dan menjilat payudaraku, hingga lidahnya sampai pada puncaknya yaitu putingku. Dito mengulum putingku serta menghisap seperti bayi yang menyusu. Hingga membuat libidoku memuncak lagi.
"Please.....fuck....me", pintaku mengiba karena aku sudah tak kuasa menahan serangan dari Dito. Sementara Dito masih menyusu pada payudaraku."Dito... Jangan siksa Kak Mela seperti ini!!! Masukan, kakak sudah tidak tahan....!!!", pintaku ke Dito.
Dito memegang penisnya yang telah ereksi sempurna dan mengarahkannya ke liang vaginaku. Dito mulai menggesek-gesekan kepala penisnya ke bibir vaginaku, hingga membuat aku mendesah. Dito mulai menekan penisnya masuk sedikit demi sedikit namun gagal, karena vaginaku sangat sempit. Dito menekannya lagi lebih keras hingga kepala penis nys sekarang sudah masuk. Aku memejamkan mataku sambil meringis kesakitan karena penisnya yang berdiameter 4 cm dan panjang 20 cm memaksa masuk liang vaginaku yang sempit. Dito tekan lagi hingga kepala penisnya merasakan ada sesuatu yang menghalanginya masuk lebih dalam.
Dito tampak sudah tidak sabar lagi. Kemudian Dito menarik penisnya keluar sedikit dan menekannya lagi dengan sekali hentakan yang kuat sekali maka lenyaplah sudah seluruh batang penisnya ditelan oleh vaginaku.
"Aaaa.....saaaakk....kitttt. Pellann....pellaaann....", aku menjerit keras karena selaput daraku sobek.
Dito membiarkan penisnya sebentar agar vaginaku bisa beradaptasi dengan penisnya. Sambil Dito menciumi bibirku dan mengulum lagi puting payudaraku biar rasa sakit yang aku rasakn sedikit berkurang. Setelah aku berhenti meringis kesakitan, Dito mulai memompa penisnya meskipun dengan pelan-pelan. Aku mulai mendesah lagi merasakan kenikmatan yang luar biasa. Semakin lama Dito semakin menaikan tempo penisnya hingga membuat vaginaku menjadi gagat dengan sejuta rasa kenikmatan.
"Ohhh....ahh....enak bangettsss, kak", mulut Dito mulai mendesah merasakan jepitan vaginaku yang begitu sempit. Begitu pula aku juga mulai menggoyangkan pinggulku mengimbangi penisnya yang semakin cepat menggenjot vaginaku.
"Sayang....lebih keras lagi....!!! Aku...sudah hampir....", aku tidak dapat meneruskan kata-kataku, karena Dito menggenjotku dengan lebih cepat lagi. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, karena tak kuasa menahan nikmat. Tanganku mencengkram lengan Dito.
"Clekk....clek....clokk....clok....", suara perpaduan antara kedua alat kelamin kami.
"Ahhhh.....akuu......sammpai.....ahhhhhh..."aku mengerang panjang sambil tubuhku meliuk-liuk menandakan aku orgasme untuk yang kedua kali.
Tubuhku mengejang dan otot-otot vaginaku berkontraksi. Vaginaku menghisap penis Dito dengan sangat kuat. Dan penis Dito disembur cairan hangat yang keluar dari dalam vaginaku, hingga membuat pertahanan Dito jebol karena tak kuasa menahan rasa geli dan nikmat pada penisnya.
"Ahhhhhh...................."
Dito mengerang keras ketika penisnya berkedut terus. Dito menghentakkan penisnya lebih dalam lagi serta mengeluarkan spermanya. Kemudian Dito terjatuh di sampingku yang telah lemas tak berdaya. Aku melihat cairan sperma Dito meleleh keluar dari vaginaku, disertai dengan darah perawanku. Sebenarnya aku merasa menyesal telah duperawani Dito, tapi aku juga merasa senang karna diberi kenikmatan batin olehnya. Sejuta perasaan membayangi pikiranku. Akhirnya aku dan Dito tertidur sampai pagi.
Setelah peristiwa itu, kami selalu melakukannya kalau ada kesempatan. Atau jika salah satu dari kami ada yang ingin bersetubuh, akan kami lakukan, entah itu di kos-kosan atau pun di hotel. Kita selalu berusaha saling memberi dan melayani dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar